Selasa, 30 Januari 2018

Sejarah

Sejarah Perjalanan Kyai Ageng Pandan Aran dan Makna Makam Tembayat

Sekitar tahun 1512 Ki Ageng Pandan Aran menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, atas bimbingan sang Guru Kanjeng Sunan Kalijogo beliau uzlah,
Perjalanan Ke Jabalkat
           
Singkat cerita Ki Ageng Pandan Aran akan pergi ke Jabalkat untuk mencari Sunan Kalijaga. Beliau berpamitan pada kedua istrinya. Baru melangkah beberapa meter, Ki Ageng  menoleh kebelakang. Dan ternyata kedua istrinya sudah mengikutinya dengan membawa tongkat. Tongkat itu diisi dengan emas dan berlian. Ki Ageng sudah tahu kalau istrinya membawa harta, namun Ki Ageng tidak menegurnya.
           
Dalam perjalanan ke Jabalkat Ki Ageng Pandan Aran selalu berjalan di depan istrinya. Istrinya Nyai Ageng Kaliwungu jauh di belakang. Di tengah perjalanan, tepatnya di selatan Semarang Ki Ageng Padang Aran dicegat 2 orang perampok. Kedua perampok itu menyuruh Kyai Ageng untuk menyerahkan hartanya. Namun Kyai Ageng  tidak membawa apa-apa dan menyuruh perampok-perampok itu jika ingin harta untuk mengambil tongkat yang di bawa wanita dibelakang. Di dalamnya terdapat emas dan berlian tapi jangan sekali-kali kalian mencelakainya karena dia istriku. Ambil saja tongkatnya dan segeralah pergi.
           
Tak lama kemudian lewatlah Nyai Ageng dengan membawa tongkat. Dan perampok-perampok itu langsung merebut tongkat tersebut. Nyai Ageng menangis sambil berlari menyusul Ki Ageng. Sedangkan istri yang satunya kembali pulang. Karena sifat perampok itu serakah mereka merasa belum puas dengan hasil rampasannya. Perampok itu meminta bekal yang di bawa Ki Ageng bahkan mengancam kalau tidak di beri akan membunuhnya. Kemudian Ki Ageng Pandan Aran berkata “Wong salah kok iseh tega temen (Bahasa Indonesia: orang sudah salah kok masih tega). Kata-kata salah tega itu kemudian sampai sekarang menjadi nama kota Salatiga.

Kemudian Ki Ageng Pandan Aran berujar “keterlaluan kau ini, tindakanmu mengendus seperti domba saja”. Dan seketika itu kepala dari Sambang Dalan (nama seorang perampok) berubah menjadi kepala domba. Mengetahui kepalanya berubah menjadi domba, Sambang Dalan menangis dan menyesal atas perbuatannya. Dan berjanji akan mengabdi pada Ki Ageng Sejak saat itu Sambang Dalan di juluki Syeh Domba.
           
Sedangkan perampok yang satunya lagi rebah ketakutan (dalam bahasa jawa: ngewel) dan kepalanya berubah menjadi kepala ular. Sejak saat itu dia di juluki Syeh Kewel. Kedua perampok tadi menjadi santri setia Ki Ageng. Dan mengikuti Ki Ageng untuk pergi ke Jabalkat
           
Hari demi hari berlalu, Ki Ageng  terus berjalan ke Selatan untuk menuju Ke Jabalkat. Mereka sudah jauh meninggalkan kota Semarang, namun Ki Ageng Pandan Aran tetap tegap berjalan sedangkan Nyai Ageng sudah lelah dan di ikuti oleh muridnya. Pada suatu hari Ki Ageng Pandan Aran berjalan terus tanpa henti, tanpa menghiraukan istrinya. Nyai Ageng tertinggal jauh di belakang. Lalu Nyai Ageng berkata “Ojo lali ingsun, aku ojo ditinggal terus” (bahasa Indonesia: jangan lupa kamu, istrimu jangan ditinggal terus). Sampai saat ini untuk mengingat hal itu tempat tersebut diberi nama Boyolali.
           
Perjalan mereka telah sampai di sebuah desa yang tidak jauh dari tujuannya. Rombongan Ki Ageng  melihat seorang perempuan tua yang membawa beras. Kemudian Ki Ageng Pandan Aran berkata “Tunggu sebentar Nyai, kami hanya ingin bertanya dimanakah Jabalkat itu?”. Perempuan itu menjawab “Kurang lebih sepuluh kilometer lagi ke Timur”. Kemudian Ki Ageng  bertanya lagi “Apakah yang Nyai bawa itu?”. Karena takut di rampok perempuan itu berbohong dan menjawab bahwa yang dibawanya adalah wedi (bahasa Indonesia: pasir).
           
Setelah rombongan Ki Ageng  berlalu, perempuan tadi merasa beras yang di gendongnya semakin berat. Ternyata setelah di lihat, beras yang dibawanya tadi berubah menjadi wedi (pasir). Perempuan itu menyesal karena sudah berbohong. Dalam hatinya ia bertanya siapakah rombongan tadi dan perempuan itu bertekat tidak akan berbohong lagi. Kemudian desa tempat membuang wedi (pasir) tadi sampai sekarang terkenal dengan nama Wedi, salah satu nama  kecamatan di wilayah Kabupaten Klaten.
           
Singkat cerita, pada suatu hari Ki Ageng  bermalam di salah satu rumah penduduk desa. Orang ini berjualan srabi, namanya Nyai Tasik orangnya galak dan kikir. Disini Ki Ageng ikut berjualan srabi dan mengaku bernama Slamet. Dengan kehadiran Slamet inilah srabi Nyai Tasik laris sekali. Sampai-sampai banyak orang rela berjam-jam antri untuk membeli srabi buatan Nyai Tasik.
           
Suatu hari Nyai Tasik menyuruh Slamet untuk mencari kayu bakar di hutan karena persediaan kayu bakar sudah habis. Namun anehnya Slamet tidak mencari kayu bakar tetapi srabi tetap matang. Ternyata tangan Slamet di masukkan ke dalam tungku untuk memasak srabi. Alangkah terkejutnya Nyai Tasik mengetahui hal itu.
           
Dengan kejadian itu Nyai Tasik takut dan tahu bahwa Slamet bukanlah orang sembarangan. Dengan kejadian itu Ki Ageng Pandan Aran memberi tahu Nyai  Tasik siapa dirinya. Nyai Tasik Pun Bertaubat dan mengikuti ajaran Kyai Ageng. Dan setelah itu Ki Ageng Pandan Aran melanjutkan perjalanan Ke Jabalkat. Beliau melanjutkan perjalanan ke arah timur. Baru melangkah beberapa meter sudah terlihat dari kejauhan Gunung Jabalkat.
           
Tibalah Ki Ageng Pandan Aran di sebuah desa. Di desa ini Ki Ageng  merasa haus sekali. Ki Ageng meminta ketimun pada seorang petani. Namun petani itu berkata bahwa ketimunnya belum berbuah. Tetapi Ki Ageng tahu bahwa ketimunnya sudah berbuah satu. Lalu Ki Ageng Pandan Aran berkata “Iki wes jiwoh” (jiwoh=siji awoh). Maka sampai sekarang desa itu terkenal dengan nama desa Jiwo, terletak di sebelah barat Gunung Jabalkat.
          
Setelah Ki Ageng Pandan Aran meninggalkan desa Jiwo, baru beberapa meter berjalan sudah sampai di kaki Gunung Jabalkat. Kemudian dengan segera Ki Ageng  menaiki gunung tersebut. Setelah sampai di puncak Gunung Jabalkat, Ki Ageng Pandan Aran terdiam lama menunggu Sunan Kalijogo  Kemudian Ki Ageng Pandan Aran meminta petunjuk Alloh dan sesaat kemudian terlihat sosok tubuh yang tak lain adalah Sunan Kalijogo Sang Guru yang sangat dinantikan.
           
Mulai saat itu Kyai Ageng Pandan Aran tinggal di Jabalkat dan merasa mendapat perintah untuk menyiarkan agam islam. Lalu Ki Ageng mendirikan masjid di puncak Gunung Jabalkat. Dan setiap hari Jumat Legi ada sarasehan. Dengan adanya pengajian ini, rakyat di sekitar mengenalnya dengan sebutan Kyai Ageng Pandan Aran yang berarti orang yang memberi pepadang atau penerangan. Dan tempat untuk berkumpul diberi nama Paseban. Sampai sekarang nama Paseban menjadi nama dukuh atau desa.
           
Syeh Domba dan Syeh Kewel diberi tugas oleh Kyai Ageng Pandan Aran untuk mengisi padasan (tempat wudhu) dengan kranjang. Walau tugas itu berat namun tetap mereka jalani. Mereka harus naik turun gunung untuk membawa air tesebut. Mereka tetap tabah dan tawakal. Hingga pada suatu hari Sunan Kalijaga melihat keduanya, kemudian menanyakan kepada Kyai Ageng “Kedua muridmu itu apakah memang domba dan ular?”. Sunan Pandan Aran menjawab sebenarnya juga manusia. Dan seketika itu kepala Syeh Domba dan Syeh Kewel berubah lagi menjadi kepala manusia.
          
Syeh Domba dan Syeh Kewel semakin mantap beguru kepada Sunan Pandan Aran, hingga meninggalnya mereka. Syeh Domba meninggal lebih dahulu. Kyai Ageng Pandan Aran memberi pusaka dan Syeh Domba meninggal karena menabrak pusaka itu. Konon Syeh domba adalah patih Majapahit karena patih Majapahit hanya bisa mati dengan pusaka itu. Syeh Domba di makamkan di Gunung Cakaran. Sedangkan Syeh Kewel di makamkan di Sentana (di desa Penengahan, sebelah tenggara desa Paseban).

Dalam perjalanan uzlahnya dari urusan duniawi beliau mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan metode patembayatan yang mempunyai makna kurang lebih musyawaroh. Karena sistim mengajinya dengan metode tersebut beliau oleh Sang Guru (Sunan Kalijaga) mendapat sebutan Sunan Bayat. Dan daerah padhepokannya terkenal dengan daerah Bayat yang terletak kurang lebih 12 km. dari ibukota kabupaten Klaten.

Ki Ageng Sunan Pandan Aran wafat pada tahun 1537 dengan meninggalkan murid-murid yang sangat terkenal antara lain : Syeikh Dombo, Ki Ageng Gribig, Nyai Ageng Tasik, Kyai Sabuk Janur, Kyai Sekar Dlimo, Ki Ageng Semilir, Ki Ageng Majasto, Kyai Kali Datuk, Ki Ageng Konang serta masih banyak yang lainnya.

Ada yang tau makam Nyai Ageng Tasik ??

Jumat, 30 September 2016

G30S/SOEHARTO, BUKAN G3OS/PKI

G 30 S PKI SUHARTO, BUKAN PKI
Tokoh PKI Hasan Raid : “G30S/SOEHARTO, BUKAN G30S/PKI”

Berikut adalah tulisan tokoh PKI Hasan Raid alm (dengan nama samaran Sulangkang Suwalu) yang berjudul « G30S/Soeharto, bukan G30S/PKI », dan disiarkan di berbagai mailing-list Tulisan ini diambil dari apakabar@access.digex.net , 8 Agustus 1998 G30S/SOEHARTO, BUKAN G3OS/PKI

« Sudah hampir 2 bulan Soeharto dipaksa berhenti sebagai presiden oleh kekuatan mahasiswa dan rakyat. Dengan demikian gagallah rencananya untuk terus menjadi Presiden sampai dengan 2003. Sementara itu 21/2 bulan lagi adalah hari genapnya 33 tahun meletusnya G30S.

Ki Oetomo Darmadi (Swadesi, No 1541/Th XXX/Juli 1998) mengemukakan, “Sudah 33 tahun tragedi nasional, apa yang disebut G30S menjadi ganjalan sejarah. Sudah seyogianya di era reformasi sekarang misteri tersebut disingkap secara transparan, jujur terbuka”.

“Mengapa, ini penting sebagai pelajaran sejarah, betapa dahsyatnya akibat-akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Antara lain bangsa ini terbelah menjadi dua: Orde Lama dan Orde Baru, dengan implikasi luas pada sektor kehidupan sosial, politik, ekonomi dan pertahanan keamanan. Terlebih-lebih jika ditilik dari hak dasar azasi manusia (HAM) hampir seluruh Deklarasi HAM PBB (10 Des 1948) dilanggar. Pancasila hanya dijadikan lips-service, dan hampir semua hak warga sipil yang termaktub dalam batang tubuh UUD 45 dinodai. Terlalu banyak lembar catatan keganasan rezim Soeharto selama 32 tahun berkuasa, sehingga ada yang menjuluki ‘drakula’, pembunuh berdarah dingin den sebagainya. Tidak mengherankan jika Indonesia ditempatkan sebagai pelanggar HAM terberat, sebab korban penubunuhan massal peristiwa G.30-S/PKI 1965 saja melampaui korban Perang Dunia II.”

Sesungguhnya sudah lama dituntut supaya misteri G30S yang sesungguhnya diungkap secara terbuka, jujur dan adil. Hanya saja tuntutan semacam itu di masa Soeharto berkuasa suatu yang mustahil bisa dilaksanakan. Sebab dengan membuka misterinya, akan terbuka lah bahwa G3OS yang sesungguhnya ialah G30S/Soeharto, bukan G30S/PKI. Mari kita telusuri!

HUBUNGAN SOEHARTO DENGAN G30S

Hubungan Soeharto, terutama dengan Kolonel Latief, seorang tokoh G3OS, begitu akrab dan mesranya. Lepas dari persoalan apakah hubungan yang erat itu karena Soeharto yang menjadi bagian atau pimpinan G30S yang tersembunyi, atau karena kelihaian Soeharto memanfaatkan tokoh-tokoh G30S untuk mencapai tujuannya menjadi orang pertama di Indonesia.

Hubungannya itu dapat diketahui, ketika pada 28 September 1965, Kolonel Latief bersama isterinya berkunjung ke rumah Jenderal Soeharto di jalan H. Agus Salim. Menurut Kolonel Latief (Kolonel Latief: “Pembelaan sidang Mahmilti II Jawa Bagian Barat” 1978) maksud kunjungannya ialah guna menanyakan adanya info Dewan Jenderal, sekaligus melaporkan kepada beliau.

“Oleh beliau justru memberitahukan kepada saya, bahwa sehari sebelum saya datang, ada seorang bekas anak buahnya berasal dari Yogyakarta, bernama Soebagiyo, memberitahukan tentang adanya info Dewan Jenderal AD yang akan mengadakan coup d’etat terhadap kekuasaan pemerintahan Presiden Soekarno. Tanggapan beliau akan diadakan penyelidikan”.

Seterusnya Kolonel Latief mengemukakan bahwa 30 September 1965 (malam), ia berkunjung ke RSPAD untuk menjumpai Jenderal Soeharto, yang sedang menunggui putranya yang tersiram sup panas. Sambil menjenguk putrandanya itu, juga untuk melaporkan bahwa dini hari l Oktober l965 G30S akan melancarkan operasinya guna menggagalkan rencana kudeta yang hendak dijalankan Dewan Jenderal. Kunjungannya ke Jenderal Soeharto di RSPAD tersebut, adalah merupakan hasil kesepakatan dengan Kolonel Untung dan Brigjen Supardjo.

Seperti diketahui menurut Brigjen Supardjo (Tempo, 1 Oktober 1988) tanggal 16 September 1965 telah terbentuk gerakan tsb, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Untung. Kolonel Latief semula berkeberatan Letkol Untung menjadi pimpinannya dan meminta supaya gerakan dipimpin seorang jenderal. Tetapi karena Kamaruzzaman (Syam) memtahankan supaya tetap Untung, karena ia pengawal presiden, maka akhirnya Letnan Kolonel Untung yang memimpinnya.

Kamaruzzaman ini menurut Wertheim (Wertheim: “Sejarah tahun 1965 yang tersembunyi” dalam Suplemen Arah, No 1 th 1990) adalah “seorang double agent”. Yang dimaksud “double agent” Wertheim ialah agennya Aidit (dalam Biro Khusus) dan agen Soeharto (yang diuntungkan oleh Peristiwa G30S).

Sesungguhnya G30S tak akan bisa melancarkan operasi militernya dini hari lO ktober 1965 itu, sekiranya Jenderal Soeharto mencegahnya dan bukan membiarkannya. Tampaknya karena Soeharto berkepentingan agar Men/Pangad A. Yani terbunuh, maka dengan diam-diam direstuinya operasi militer G30S yang hendak dilancarkan itu. Jika Soeharto tidak berkepentingan terbunuhnya A.Yani, tentu rencana operasi G30S itu akan dicegahnya, atau langsung saja Kolonel Latief ditangkapnya, atau rencana G30S itu dilaporkannya kepada atasannya, misalnya kepada Jenderal Nasution. Dengan demikian operasi G30S itu gagal.

Bagi Kolonel Latief dengan tidak ada pencegahan dari Jenderal Soeharto, berarti Jenderal Soeharto merestuinya dan operasi G30S dini hari l Oktober dilaksanakannya.

Soeharto merestui operasi G30S itu secara diam-diam, karena ia mengetahui ada sebuah konsensus dalam TNI-AD bahwa bila Pangad berhalangan, otomatis Panglima Kostrad yang menjadi penggantinya. Dan Panglima Kostrad ketika itu adalah dirinya sendiri.

MALING BERTERIAK MALING

Paginya (pukul 6.30), dengan dalih ia mendapat informasi dari tetangganya, Mashuri, bahwa Jendral A. Yani dan beberapa jenderal lain telah terbunuh, Soeharto dengan Toyotanya, sendirian (tanpa pengawal) berangkat ke Kostrad. Melalui Kebun Sirih, Merdeka Selatan. Soeharto sudah tahu benar siapa sasaran G30S.

Sejalan dengan laporan yang disampaikan Kolonel Latief kepada Jenderal Soeharto di RSPAD malam itu, maka daerah, dimana markas Kostrad terletak, tidak diawasi atau dijaga pasukan G30S. Yang dijaga hanya daerah lain saja di Merdeka Selatan. Ini menjadi indikasi adanya saling pengertian antara G30S dengan Panglima Kostrad. Jika tidak ada saling pengertian, tentu daerah di mana Markas Kostrad berada juga akan dijaga pasukan G30S.

Menurut Yoga Sugama (Yoga Sugama: “Memori Jenderal Yoga” [hal: 148-153]) pada pagi 1 Oktober 1965 itu, dirinyalah yang pertama tiba di Kostrad. Kepada Ali Murtopo, Yoga Sugama memastikan bahwa yang melancarkan gerakan penculikan dini hari tersebut, adalah anasir-anasir PKI. Ali Murtopo tidak begitu saja mau menerima keterangan Yoga Sugama tersebut.

Setelah ada siaran RRI pukul 7.20, yang mengatakan telah terbentuk Dewan Revolusi yang diketuai Kolonel Untung, maka Yoga Sugama memperkuat kesimpulannya di atas. Sebab Yoga Sugama kenal Untung sebagai salah seorang perwira TNI-AD yang berhaluan kiri. Untung pernah menjadi anak buahnya ketika RTP II bertugas menumpas PRRI di Sumatera Barat.

Jenderal Soeharto juga bertanya kepada Yoga Sugama, “Apa kira-kira Presiden Soekarno terlibat dalam gerakan ini.” Yoga Sugama dengan tegas menjawab “Ya”. Tuduhan Yoga Sugama bahwa dibelakang gerakan itu adalah anasir-anasir PKI dan Presiden Soekarno terlibat, tentu saja sangat membesarkan hati
Soeharto. Karena dengan demikian rencananya untuk menghancurkan PKI dan menggulingkan Presiden Soekarno mendapat dukungan dari bawahannya.

Pada pukul jam 9.00 pagi itu Jenderal Soeharto (Tempo, 1 Oktober 1998) memberikan briefing. Dengan tegas ia mengatakan: “Saya banyak mengenal Untung sejak dulu. Dan Untung sendiri sejak 1945 merupakan anak didik tokoh PKI Pak Alimin”. Ini tentu bualan Soeharto saja. Sebab Pak Alimin baru kembali ke Indonesia pertengahan tahun 1946. Bagaimana ia mendidik Untung sejak tahun 1945, padahal ketika itu Pak Alimin masih berada di daratan
Tiongkok.

Tidak lah kebetulan Kamaruzzaman mempertahankan Kolonel Untung menjadi pimpinan G30S. Sudah diperhitungkannya, bahwa suatu ketika nama Untung tsb akan dapat digunakan sebagai senjata oleh Soeharto untuk menghancurkan PKI.

Kamaruzzaman memang seorang misterius. Secara formal dia adalah orangnya Aidit (dalam BC). Sedang sesungguhnya dia adalah di pihak lawannya Aidit, dia bertugas menghancurkan PKI dari dalam.

Untuk itu lah maka Kamaruzzaman, seperti dikatakan Manai Sophian (Manai Sophiaan (“Kehormatan bagi yang berhak”) membuat ketentuan bahwa persoalan yang akan disampaikan kepada Aidit, harus melalui dirinya. Banyak hal yang penting yang tak disampaikannya pada Aidit. Akibatnya setelah gerakan dimulai terjadilah kesimpangsiuran, penyimpangan yang merugikan Aidit/PKI.

Sesuai dengan rencananya, maka Soeharto (G.30-S pemberontakan PKI”, Sekneg, 1994, hal 146, 47) pada 1 Oktober tersebut tanpa sepengetahuan, apalagi seizin Presiden/Pangti Soekarno mengangkat dirinya menjadi pimpinan TNI-AD. Padahal jabatan Panglima suatu angkatan, adalah jabatan politik. Itu merupakan hak prerogatif Presiden untuk menentukan siapa orangnya.

Dikesampingkannya hak prerogatif Presiden/Pangti ABRI tersebut, diakui Soeharto dalam 4 petunjuk kepada Presiden Soekarno yang harus disampaikan oleh Kolonel KKO Bambang Widjanarko yang berkunjung ke Kostrad 1 Oktober 1965 itu. Kedatangan Bambang Widjanarko adalah untuk memanggil Jenderal Pranoto Reksosamudro yang telah diangkat menjadi caretaker Menpangad sementara oleh Presiden, untuk datang ke Halim menemui Presiden Soekarno.

Usaha Bambang Widjanarko untuk meminta Jenderal Pranoto Reksosamudro ke Halim itu dihalangi Soeharto. Empat petunjuk tersebut ialah:

1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro dan Mayjen TNI Umar Wirahadikusumah tidak dapat menghadap Presiden Soekarno untuk tidak menambah korban. (Ini berarti Soeharto menuduh Presiden Soekarno lah yang bertanggungjawab atas penculikan sejumlah jenderal dini hari 1 Oktober tersebut. Sesuai dengan jawaban Yoga Sugama kepadanya tentang keterlibatan Presiden Soekarno dalam G30S. Karena Ketua Dewan Revolusi adalah Kolonel Untung, pasukan pengawal Presiden Soekarno)

2. Mayjen TNI Soeharto untuk sementara telah mengambil oper pimpinan TNI-AD berdasarkan perintah Tetap Men/Pangad. (Ini berarti perintah tetap
Men/Pangad, maksudnya konsensus dalam TNI-AD lebih tinggi dari hak prerogatif presiden dalam menentukan siapa yang harus memangku jabatan panglima suatu angkatan).

3. Diharapkan agar perintah-perintah Presiden Soekarno selanjutnya disampaikan melalui Mayjen TNI Soeharto. (Ini berarti Mayien TNI Soeharto yang mengatur Presiden Soekarno untuk berbuat ini atau itu, meski pun dibungkus dengan kata-kata “diharapkan”. Semestinya Presiden yang mengatur Mayjen Soeharto, bukan sebaliknya. Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI).

4. Mayjen TNI Soeharto memberi petunjuk kepada Kolonel KKO Bambang Widjanarko agar berusaha membawa Presiden Soekarno keluar dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, karena pasukan yang berada di bawah komando Kostrad akan membersihkan pasukan-pasukan pendukung G3OS yang berada di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah sebelum tengah malam 1 Oktober 1965. (Ini berarti Soeharto “memerintahkan” Soekarno meninggalkan Pangkalan Udara HPK, karena Halim akan diserbu. Padahal sebelumnya Presiden Soekarno telah memerintahkan kepada Brigjen Supardjo supaya menghentikan operasi militer G30S dan jangan bergerak tanpa perintahnya. Tampaknya perintah lisan Presiden/Pangti Soekarno demikian, dianggap tidak berlaku bagi dirinya. Malahan situasi itu digunakannya untuk “memukul” pasukan G30S.

Empat petunjuk Mayjen Soeharto kepada Presiden Soekarno melalui Kolonel KKO Bambang Widjanarko menunjukkan: dengan menggunakan G30S, Jenderal Soeharto mulai 1 Oktober 1965 secara de facto menjadi penguasa di Indonesia. Sebagai langkah awal untuk memegang kekuasaan de jure di Indonesia nantinya. Ya, maling berteriak maling. Dirinya yang kudeta, PKI yang dituduhnya melakukan pemberontakan.

PEMBANTAIAN MASSAL

Sesudah kekuasaan secara de facto berada di tangannya, hunting (perburuan) terhadap anggota dan simpatisan PKI dilancarkannya sejadi-jadinya. Menurut MR Siregar (MR Siregar: “Tragedi Manusia dan Kemanusiaan”, Amsterdam 1993, hal: 214-217) betapa ganasnya perburuan untuk meruntuhkan moral orang-orang komunis sehingga tak berani melakukan perlawanan. Istilah hunting (perburuan) ini digunakan Sumitro dalam wawancaranya dengan BBC.
Sekadar ilustrasi dari hunting Sumitro dapat dikemukakan, di antaranya:

Di Jakarta: Sekawan progrom menjerang air dalam drum. Ketika air sudah menggelegak, seorang yang mereka “amankan”, kalau tidak lupa dari IPPI, dengan posisi kepala ke bawah dan kaki ke atas, dicelupkan ke dalamnya. Adegan mengerikan dan memilukan yang tak dapat disaksikan mata manusia biasa menggelitik pembunuh-pembunuh berdarah dingin itu.

Di Jawa Tengah: HJ Princen mengatakan dia yakin sekitar 800 orang telah dibunuh dengan pukulan batang-batang besi pada kepala, tapi bahwa jumlah tsb mungkin lebih tinggi. Selain daripada itu pasukan di bawah pimpinan Sarwo
Edhie pergi dari desa ke desa, membawa pergi korban-korban mereka dengan truk-truk untuk dibunuh. Banyak dari mereka diwajibkan menggali kuburannya sendiri.

Di Jawa Timur: Banser, sayap militer dari ANSOR menjelajahi desa-desa. Mengambil orang-orang komunis. Mereka membawa korban-korban mereka ke desa berpenduduk padat dan membunuhnya. Beberapa diantaranya ditanam dalam kuburan yang dangkal, yang digali sendiri oleh para korban, dan
jenazah-jenazah lain dilemparkan ke dalam sungai atau sumur-sumur. Tumpukan mayat terhampar pada pesisir sungai, dan sejumlah sungai sampai tersumbat oleh apungan mayat-mayat.

Di Kupang: Seorang pemimpin PKI dikeroyok kawanan progrom. Setelah lemah dihajar, kedua belah tangannya diikat dengan seutas tali panjang. Ujung lain dari tali itu diikatkan pada sebuah jeep tentara. Jeep ini kemudian meluncur ketengah-tengah kota, menyeret sang korban yang terbanting-banting sepanjang route yang dilalui. Sang korban memekik-mekik dan mengerang bukan kepalang.Jalan-jalan yang dilalui berbelang ceceran darah sang korban. Muka dan tubuhnya terkelupas.

Di Sulawesi Utara: Sejumlah tangkapan kader PKI dihajar habis-habisan.
Dengan tangan terikat dibawa berlayar ke lepas pantai. Sesampai di geladak,
setiap kaki mereka digantungi batu-batu besar. Kemudian jangkar diangkat dan
kapal pun segera melaju ke lepas pantai. Pesta pesiar maut ini dimulai
dengan membuang hidup-hidup para korban seorang demi seorang ke laut.

Menurut Sarwo Edhie (MIK: “50 tahun Merdeka & Problema Tapol/Napol”, 1995, hal 59), seperti yang dikemukakannya kepada Permadi SH dan oleh Permadi SH disampaikannya dalam Seminar Sehari 28 Januari 1995 di LBH Jakarta, bahwa jumlah yang dibunuh dalam peristiwa G30S itu bukan 1,5 juta orang, melainkan 3 juta orang. Sebagian besar atas perintahnya.

Mengenai pembantaian terhadap massa anggota dan simpatisan PKI ini, menurut Manai Sophiaan (Manai Sophiaan: “Kehormatan Bagi yang Berhak”, 1994, hal 311) korban penumpasan sangat besar. Abdurrahman Wahid, Ketua PBNU ketika diwawancarai oleh “Editor”, mengaku bahwa orang Islam membantai 500.000 eks PKI. Tentu masih ada lagi yang dibunuh oleh orang-orang yang tidak masuk orang Islam. Maka angka 1 juta, seperti yang diumumkan oleh Amnesti Internasional, bisa dimengerti.

Sedang Dawam Rahardjo (Masalah Tapol & Napol dari Perspektif Konstitusi, 1994, hal 58-59) mengemukakan dalam Seminar di LBH bahwa dalam film “Ridinga Tiger” diceritakan mengenai keterangan seorang yang sangat lugu sekali, bagaimana membunuh orang-orang PKI secara sangat teratur dan sopan, pokoknya diatur dengan baik, sehingga tidak menimbulkan gejolak-gejolak dsb. Padahal bagi orang lain, itu merupakan suatu pertunjukkan yang mengerikan sekali. Demikian jugalah dengan bagaimana tahun 1965 telah terjadi pembunuhan bangsa kita oleh bangsa kita sendiri, termasuk oleh orang Islam dimana bila mengingat itu semua, timbul rasa ngeri bercampur malu, rasa berdosa yang besar.

Dawam Rahardjo juga mengemukakan bahwa tapol mulia karena mereka adalah orang-orang yang berpendirian. Sebenarnya pemrasaran takut mengatakan hal ini, tapi kalau konsekuen kita sebenarnya harus menghargai orang-orang PKI juga, sebab orang-orang PKI juga mempunyai cita-cita luhur. Mereka bukan orang kriminal.

G30S BUKAN PEMBERONTAKAN PKI

Permadi SH (50 tahun Merdeka & Problema Tapol/Napol, 1995, hal 59) dalam Seminar Sehari di YLBHI pada 28 Januari 1995 mengemukakan “Saya kesulitan
menjawab pertanyaan anak-anak muda sekarang. Kalau memang PKI itu berontak, berontak terhadap siapa? Sebab pemerintah waktu itu yang dipimpin Bung Karno menguntungkan posisi mereka. Kemudian berapa orang yang dibunuh PKI?

Benarkah PKI punya bedil dan membunuh orang-orang lain, kecuali yang 7 jenderal dan beberapa kolonel dan lain sebagainya dan itu pun masih dipertanyakan: apakah PKI atau tentara sendiri yang membunuhnya.

Menurut Oei Tjoe Tat (Oei Tjoe Tat: “Memoar Oei Tjo Tat”, hal 171) yang jelas Presiden Soekarno tidak merasa diberontaki PKI. Kalau G30S itu pemberontakan PKI, berarti PKI berontak pada pemerintah Soekarno 1 Okt 1965. Bila demikian, mengapa Nyoto (orang ketiga dalam PKI) tidak ditangkap Soekarno ketika hadir dalam sidang Kabinet 6 Okt 1965? Malah ketika sidang
Kabinet 6 Oktober tsb, kebetulan saya berdekatan duduk dengan Nyoto, oleh Bung Karno disilakannya untuk ngomong-ngomong.

Juga dalam pidato Presiden Soekarno (Dalam buku “Memenuhi Panggilan Tugas”, jilid 7, hal 172-173) tanggal 21 Desember 1965 mengatakan: Gestok (Gerakan 1 Oktober -pen) harus kita hantam, tetapi komunisme tidak bisa, karena ajaran komunis itu adalah hasil keadaan objektif dalam masyarakat Indonesia, seperti halnya nasionalis dan agama. Nasakom telah kutulis sejak aku berumur 25 tahun dalam tahun 1926, dan ini akan kupegang teguh sampai aku masuk liang kubur.

Menurut Manai Sophiaan (Manai Sophiaan: “Kehormatan Bagi yang Berhak”, hal 312) sesudah Brigjen Supardjo (dari G30S) melaporkan apa yang terjadi dini hari 1 Oktober pada Presiden Soekarno di Halim, Presiden Soekarno memerintahkan Brigjen Supardjo untuk menghentikan semua operasi militer  G30S. Perintah itu diberikan, pada saat G30S secara militer dalam posisi memegang inisiatif. Ini terjadi di Halim 1 Okt 1965. Perintah lisan Presiden Soekarno itu ditaati, operasi militer berhenti seketika. Senjata yang berada di tangan para militer, yang berkekuatan dua batalyon, diperintahkan oleh AURI supaya dikembalikan ke dalam gudang.

Seorang saksi mata yang berada di Halim 1 Okt 1965 itu mengatakan bahwa DN Aidit yang juga berada di Halim ketika mendengar perintah supaya operasi militer dihentikan, memberi reaksi marah.

Melapornya Brigjen Supardjo kepada Presiden Soekarno dan bukan kepada Aidit, menjadi bukti yang hidup bahwa G3OS bukan pemberontakan PKI dan bukan PKI yang menjadi dalagnya. Kalau PKI yang berontak atau menjadi dalangnya, tentu Brigjen Supardjo melapornya kepada Aidit dan bukan kepada Presiden Soekarno. Padahal Brigjen Supardjo dengan tidak memperdulikan bagaimana reaksi Aidit terhadap perintah lisan Presiden Soekarno untuk menghentikan operasi militer. Perintah itu ditaati sepenuhnya.

Manai Sophiaan (Manai Sophiaan: “Kehormatan Bagi yang Berhak”, hal: 151) melalui bukunya juga mengatakan bahwa Sunardi SH pada tanggal 10 Des 1981 telah mengirim surat kepada 500 alamat pejabat tinggi, termasuk Presiden Soeharto. Isinya menuduh Presiden Soeharto terlibat G30S. Sunardi SE ditangkap dan diadili. Dinyatakan sebagai pengkhianat. Oleh Pengadilan Negeri 7 Oktober 1982 dituntut hukuman 4 tahun 6 bulan, potong masa tahanan.

Di dalam pidato pembelaannya, Sunardi SH mengatakan bahwa coup d’etat G.30-S 1965 yang dikatakan gagal, justru berhasil dengan baik, sesuai dengan rencana lebih dulu, telah diatur dan diperhitungkan dengan cermat, yaitu menjatuhkan kekuasaan Presiden Soekarno sebagai pemegang pemerintahan yangsah.

Jelasnya, menurut Sunardi SH bahwa G30S adalah kudeta Soeharto, bukan pemberontakan PKI. Jika G30S pemberontakan PKI tentu Sunardi SH tidak akan mengatakan G.30-S berhasil. Karena kenyataannya bersamaan dengan
tergulingnya Presiden Soekarno dari kekuasaannya, PKI pun turut hancur.

Sedang Oei Tjoe Tat (Memoar Oei Tjoe Tat, hal 170) mengatakan: menurut pengamatan saya sejak 1 dan 2 Oktober 1965 kekuasaan de facto sudah terlepas
dari tangan Presiden Soekarno selaku penguasa RI. Memang padanya masih ada corong mikrofon, tetapi inisiatif dan kontrol jalannya situasi sudah hilang.
Yang ada hanya tinggal sedikit kekuasaan atas piranti dan sarana untuk mewujudkan kehendak politiknya. Dengan kata lain, pada 1 Oktober 1965 berakhirlah sesungguhnya rezim Soekarno.

Sementara itu Ny Dewi Soekarno (Vrij Nederland tanggal 16 April 1970) melalui Surat terbuka yang ditujukannya kepada Jenderal Soeharto antara lain mengatakan: Tuan telah meyakinkan orang banyak (memfitnah) dengan melancarkan berita bahwa G.30-S dilakukan oleh PKI. Hal itu jelas tidak benar. Bukankah yang melakukan gerakan itu orang-orang militer. Jelas bahwa peristiwa G.30-S adalah akibat pertentangan yang ada di kalangan ABRI sendiri.

Dalam pada itu Soeharto pada Minggu 23 Januari 1994 menerima rombongan
peserta pembekalan back to basic TNI AL di Tapos Bogor. Di tengah perbincangan yang santai dan penuh keakraban sepanjang satu setengah jam itulah Pak Harto, kata Tabloid Detik mengungkapkan: Saya menerima sebuah buku berjudul “Prima Dosa”. Isinya menggugat pemerintahan sekarang dan menggugat saya, bahwa yang menciptakan G30S itu saya. Mereka memutar balikan fakta.

Sementara pengamat luar negeri tentang G30S ini menyimpulkan beberapa hal. Peter Dale Scott, profesor ahli bahasa Inggeris dari University of California, Berkeley, AS, menerbitkan tulisan yang berjudul: “The UnitedStates and the Overthrow of Soekarno 1965-1967″ (AS dan penggulingan Soekarno). Karyanya itu dimuat dalam Pacific Affairs pada tahun 1984, isinya menguraikan peranan CIA dalam menggerakkan TNI-AD, terutama oleh SESKOAD. Ia menyimpulkan: G30S kudeta yang dilakukan Soeharto.

Sedang ACA Dake, dalam bukunya setebal 480 halaman, yang berjudul “In Spirit of the Red Banteng” yang diterbitkan pada 1974 di Den Haag, mengemukakan bahwa ia berhasil mendapatkan copy dari pemeriksaan Kolonel Widjanarko yang mengungkapkan bahwa Bung Karno telah memutuskan pengamanan para jendral yang tidak loyal pada satu rapat rahasia di Bali dalam bulan Juni 1965 dan merundingkan dengan Untung pada Agustus 1965. Pada 23 September 1965 Komandan Cakrabirawa JenderaL Sabur diperintahkan “untuk secepat mungkin mengambil tindakan terhadap para jenderal yang tidak loyal.”

Wertheim dalam tulisannya yang berjudul “Soeharto and the Untung Coup the Missing Link (1970)” menyimpulkan bahwa AD yang melakukan kudeta. Ia meragukan keterlibatan komunis, karena di saat itu PKI sudah berada diambang puncak kekuasaan. Jadi buat apa susah-susah lagi merebut kekuasaan.

Menurut Cornell Papers, persoalan G30S adalah persoalan intern AD. Jadi bukan PKI yang mendalangi peristiwa itu. Namun pada saat-saat terakhir ada usaha memancing supaya PKI terlibat. Kalau toh PKI terlibat, keterlibatannya hanya insidentil.

Dan menarik apa yang dikatakan Leo Suryadinata (Golkar dan Militer, hal 19-20) bahwa “jika PKI menjadi dalang kudeta, ia adalah dalang yang sama sekali tidak siap”. Artinya, PKI memang tidak menyiapkan G30S.

KESIMPULAN

Sudah tiba waktunya untuk mengatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Sejarah G30S yang selama 32 tahun ini diputarbalikkan oleh kekuasaan Soeharto, harus ditempatkan pada tempat yang sebenarnya. Yaitu G30S adalah G30S/Soeharto dan bukan G30S/PKI.

Menurut AM Hanafi (AM Hanafi Menggugat, 1998, hal 262) bahwa “G30S menggunakan Soekarno dan Soeharto menggunakan G30S”. Jadi, “G30S/Soeharto”.

>> http://www.facebook.com/notes/dadang-hidayat/g-30-s-pki-suharto-bukan-pki/454102871277079

Rabu, 11 November 2015

TOLONG DI SHARE !!! Resep Rahasia dari NTT Mengobati Gagal Ginjal, kanker lidah sampai pemulihan eks Pecandu Narkoba Ternyata Hanya Butuh 3 Bahan Saja...


Tempo hari saat saya tugas ke NTT saya lihat Kepala Kejaksaan Tinggi NTT pak John Walingson Purba terlihat segar bugar bersih putih kulitnya serta sehat sekali. Saya bertegur sapa dgn beliau " Bapak tampak sehat sekali Pak ". Kemudian beliau berceritera : " ya dahulu memang sy sakit gagal ginjal dahulunya serta sy hrs bersihkan darah. Bahkan juga asam urat sy mencapai 14. Dokterpun sdh angkat tgn dgn penyakit sy ini. Tetapi sekrg sy sembuh total cuma dgn konsumsi ramuan yg diberikan oleh Sinshe sy...

Ramuan itu yaitu :
1. 11 (sebelas) siung bawang putih tunggal
2. 2 (dua) siung bawang bombay
3. 3 (tiga) bh jeruk nipis (bukanlah jeruk lemon)

Ketiga bahan itu diblender semua jadi satu. Utk jeruk nipisnya diblender seluruhnya beserta kulit serta biji bijinya sekalian. Nah ramuan herbal tersebutlah yg dikonsumsi satu hari 3x 1 sendok mkn seblm mkn. Walhasil pak Kajati sembuh total dari penyakit gagal ginjalnya itu serta ramuan tersebut yg ditularkan kpd kami Tim Inspeksi Umum dari Jkt. Kata beliau sang Shinse nya berpesan bila sdh sakit apa pun mengkonsumsi ini bakal sehat. Sekalipun dokter telah memvonis tdk bakalan sembuh.

Sepulang dari Kupang pak Irmud Intel Pidsus Tjahyo Aditomo lsg bikin ramuan itu serta walhasil seluruhnya keluhannya hilang. Rasa kantuk yg senantiasa melanda waktu jam jam kerja jadi hilang sekalipun. Begitupun linu2 di tgn. Beliaupun mempunyai anak yg divonis dokter alami gejala kangker lidah. Tetapi ajaib sesudah mengkonsumsinya jadi sembuh sama sekali.

Satu lagi Pemeriksa Datun bu Riama Sihite mempunyai pembantu eks pecandu narkoba. Tekanan darahnya selalu diatas 200/100 lbh. Tiap-tiap bgn pagi selalu tdk dapat lsg duduk serta hrs pelan2 utk dapat duduk. Jadi itu dia srh sang pembantu itu buat ramuan itu serta mengonsumsinya sebagai eksperimen. Sesudah dikonsumsi sepanjang 2 minggu sang pembantu itu lsg kencing darah serta kemudian tensi nya jadi normal memjadi 125/70..

Sumber: http://www.mediakesehatan.tk/2015/10/tolong-di-share-resep-rahasia-dari-ntt.html?m=1

Rabu, 30 September 2015

Amerika di Balik G30S 1965?

Membaca ‘peristiwa 1965’ di Indonesia, keterhubungan antara peristiwa itu dengan faktor dunia internasional sangat terang. Namun, keterhubungan itu, seperti sering dikemukakan banyak orang, tidak sesederhana ‘konteks perang dingin’.

Pada Januari 2011 lalu, Goethe Institute menggelar konferensi internasional bertajuk Indonesia and the World in 1965. Konferensi itu menghadirkan pakar dan peneliti, antara lain, Bradley Simpson, Ragna Boden, Jovan Cavoski, dan Richard Tanter.

Yang menarik, bagi saya, adalah makalah berjudul Amerika Serikat dan Dimensi Internasional dari Pembunuhan Massal di Indonesia yang disampaikan oleh Bradley Simpson, dosen sejarah di Universitas Princeton, Amerika Serikat.

Makalah itu menyingkap keterlibatan AS secara langsung untuk menghancurkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penyingkiran Soekarno. Untuk diketahui, sebagian besar informasi di makalah Brad Simpson dari arsip-arsip AS sendiri, seperti telegram (rahasia) Kedubes AS, memo sejumlah pejabat AS, kabel infomasi CIA, airgram Kedubes AS, dan lain-lain. Jadi, akurasi informasinya cukup menyakinkan.

Dari makalah Brad Simpson itu, saya menangkap setidaknya ada dua kepentingan besar AS di Indonesia saat itu. Pertama, AS berkepentingan mengubah haluan politik luar negeri Indonesia saat itu, yang terang-terangan anti-kolonialis dan anti-imperialis, agar kembali ke pangkuan barat. Kedua, menjaga kepentingan ekonomi AS melalui perusahaan-perusahaannya yang beroperasi di Indonesia dan, kalau memungkinkan, memperluasnya.

Untuk mencapai dua misi itu, AS punya kepentingan untuk: satu, menghancurkan PKI. Sebab, PKI merupakan kekuatan politik utama yang menentang kepentingan ekonomi-politik AS di Indonesia; dua, menggulingkan Soekarno dan menciptakan rezim baru yang lebih sejalan dengan kepentingan barat.

Untuk lebih memudahkan para pembaca menangkap peran AS dalam memainkan situasi Indonesia untuk mencapai tujuannya, saya mencoba membagi tiga pembahasan–tentunya dengan mengacu pada makalah Brad Simpson; 1) pra-G30S 1965; 2) saat peristiwa G30S 1965 meletus; dan 3) pasca G30S 1965.

Pra G30S 1965

Sebelum peristiwa G30S 1965, seperti ditulis Brad, AS sudah melakukan sejumlah aksi untuk membendung laju komunisme, politik luar negeri non-blok, dan rencana-rencana pembangunan di Indonesia. Salah satunya adalah keterlibatan AS dalam menyokong militer kanan dalam pemberontakan PRRI/Permesta di tahun 1950-an.

Selain itu, kata Brad, AS juga bekerjasama dengan sejumlah intelektual berorientasi barat di Indonesia, yang kecewa dengan pembubaran Demokrasi Parlementer. Selain itu, pemerintah AS, lembaga-lembaga kemanusiaannya, dan lembaga seperti Bank Dunia mencoba ‘merayu’ Soekarno untuk menerima bantuan militer, ekonomi, dan teknis.

Harapan AS untuk membawa Indonesia ke pangkuan barat benar-benar pupus begitu Soekarno melancarkan konfrontasi terhadap Federasi Malaya (federasi bentukan Inggris). Di sisi lain, politik luar negeri Indonesia makin merapat ke Cina.

Pada Agustus 1964, kata Brad, AS memulai operasi-operasi rahasia untuk menggulingkan Soekarno dan memancing konflik yang tajam antara Angkatan Darat (AD) dan PKI. Saat itu, pihak intelijen AS menyimpulkan bahwa kekusaan Presiden Soekarno mustahil dilawan selama dia masih hidup, “kecuali, tentu saja, jika beberapa teman kita ini mencoba menggulingkannya.” [1]

Inggris juga mengikuti langkah serupa tahun 1964. Bahkan, Asisten Menteri Luar Negeri Inggris, Edward Peck, mengisyaratkan bahwa ‘ada peluang besar untuk mendorong timbulnya suatu kudeta prematur oleh PKI selama Soekarno masih hidup.’ [2]

Awal 1965, ada peristiwa yang membuat AS dan barat makin tidak sabar untuk menghajar PKI dan menggulingkan Soekarno. Pertama, keputusan Soekarno menarik Indonesia keluar dari PBB. Kedua, para pekerja Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (SARBUPRI)–yang berada di bawah kendali PKI–untuk merebut perkebunan-perkebunan yang dimiliki oleh US Rubber Company di Sumatera Utara.

Pada saat bersamaan, Februari 1965, Presiden Soekarno, Waperdam III Soebandrio, dan Menteri Perkebunan Frans Seda menyampaikan kepada perwakilan US Rubber Company dan Goodyear, bahwa pemerintah (Indonesia) mengambil ‘kendali administratif’ atas perkebunan-perkebunan karet milik asing dan mendukung pengambilalihan properti milik barat. [3]

AS tentu gerah dengan aksi-aksi tersebut. Karena itu, pejabat AS segera memperingatkan, “Soekarno dan para komandan militer sudah kami beritahu, bahwa begitu terjadi sesuatu yang mengisyaratkan adanya campur tangan terhadap kendali atas Caltex….pengeboran minyak dari Indonesia akan dihentikan.” [4] Ini ancaman yang serius. Maklum, jika pengeboran minyak dihentikan, ekonomi Indonesia makin lumpuh.

Yang menarik dari ulasan Brad, ketika merespon situasi di Indonesia, terutama politik konfrontasi Soekarno terhadap federasi Malaysia, Inggris mempertimbangkan untuk memecah Indonesia menjadi negara-negara kecil. Ya, Inggris memang paling lihai dalam urusan memecah-belah bangsa, seperti yang dilakukannya terhadap India dan Pakistan, lalu Malaysia.

Pada Februari 1965, CIA mengusulkan untuk memperluas cakupan operasinya di Indonesia, termasuk hubungan rahasia dengan kelompok-kelompok anti-komunis, black letter operation, operasi media, termasuk kemungkinan aksi ‘radio hitam’ dan politik hitam di dalam lembaga-lembaga politik di Indonesia. [5]

Dari uraian di atas, saya kira, AS dan sekutunya memainkan peran besar dalam memprovokasi situasi di Indonesia. Dugaan bahwa AS dan sekutunya turut bermain dalam isu “Dewan Jenderal” dan “Dokumen Gillchrist” sangat mungkin terjadi. Provokasi-provokasi itu bermakna dua hal: pertama, memancing pendukung Soekarno, termasuk PKI dan Angkatan Bersenjata, untuk melancarkan operasi kontra-kudeta yang prematur; kedua, mempertajam peruncingan antara sayap kiri (Soekarno, militer progressif dan PKI) melawan sayap kanan (AD, Masyumi, PSI, dll).

Peristiwa G30S 1965 Dan Pembantaian Massal

Gerakan prematur yang dilancarkan oleh sekelompok Angkatan Darat (AD) untuk menggagalkan rencana kup Dewan Jenderal, yang ironisnya memperlihatkan Biro Khusus PKI, merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh AD yang anti-komunis dan sekutu internasionalnya (negara-negara kapitalis).

Dengan meminjam hipotesis John Rosa, penulis Dalih Pembunuhan Massal, Brad menyimpulkan bahwa G30S dijadikan dalih/justifikasi bagi Soeharto, AD, dan pendukung internasionalnya untuk melakukan pembasmian terhadap PKI.

Begitu G30S dipatahkan, tanggal 1 Oktober 1965, pejabat Washington tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya terhadap kemungkinan AD tidak menggunakan peluang itu untuk menumpas habis PKI. Kabel CIA tertanggal 17 Oktober 1965 menunjukkan: “CIA memperingatkan bahwa AD boleh jadi cukup puas dengan hanya melakukan tindakan terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pembunuhan Jenderal, dan membiarkan Soekarno memperoleh kembali sebagian besar kekuasaannya.” [6]

Dubes Inggris di Indonesia, Andrew Gilchrist, menyerukan dilakukannya “propaganda dini yang (direncanakan) secara hati-hati dan aktivitas perang urat syaraf guna memperburuk perselisihan di dalam negeri (Indonesia) dan memastikan pembasmian dan penghalauan PKI oleh tentara Indonesia.” [7]

Telegram Kedubes AS tanggal 5 Oktober 1965 mengatakan: “pemerintah AS, Inggris, dan Australia berusaha membantu AD dengan menciptakan propaganda mengenai kesalahan, penghianatan, dan kekejaman PKI [garis miring oleh penulis] dan tuduhan mengenai adanya kaitan antara G30S dengan Cina.” [8]

Tanggal 13 Oktober 1965, Menlu AS Dean Rusk menyimpulkan bahwa sudah tiba waktunya untuk memberi isyarat pihak militer (Indonesia) mengenai sikap AS terhadap perkembangan terkini. Menurut Rusk, bersedia dan tidaknya AD menuntaskan aksinya terhadap PKI bergantung pada atau harus dipengaruhi AS.

Pada saat yang sama, ajudan Jenderal Nasution mendekati Dubes AS untuk meminta bantuan peralatan komunikasi portabel untuk keperluan panglima AD. Bantuan Kedubes itu menandai penarikan pengakuan Washington terhadap Soekarno sebagai pemimpin Indonesia yan sah. Artinya, Washington terang-terang memaksakan campur tangan untuk mengganti pemerintahan sah di Indonesia.

Segera setelah itu, mulai terdengar aksi-aksi pembantaian massal nan keji terhadap anggota dan simpatisan PKI. Pada tanggal 4 Oktober, Kedubes AS melaporkan bahwa RPKAD di daerah komando Jateng memberi pelatihan dan senjata kepada pemuda muslim. Di sumatera utara dan Aceh, pemuda IPKI dan unsur-unsur anti-kom mulai dorongan sistematis untuk menumpas PKI.

Yang menarik dari ulasan Brad Simpson, Kedubes maupun Konsul AS di Indonesia menerima banyak laporan tentang pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI, misalnya:

Tanggal 13 November: kepala Informasi Polisi Kol Budi Juwono melaporkan bahwa 50 sampai 100 anggota PKI di bunuh setiap malam di Jawa Timur dan Jawa tengah oleh kelompok sipil anti-komunis atas restu AD.

Tanggal 16 November: Pemuda Pancasila memberitahu Konsulat AS di Medan bahwa mereka bermaksud membunuhi setiap orang PKI yang mereka jangkau.

Bulan November: missionaris memberitahu konsulat AS di Surabaya bahwa 15.000 komunis dibunuh di daerah Tulungagung saja. Di Pasuruan, Jawa Timur, 2000 buruh pabrik Nebritex–semuanya anggota SOBSI–dibunuh sejak akhir November.

Di perkebunan-perkebunan di Sumatera Utara, kelompok anti-komunis membantai sedikitnya 3000 anggota PKI setiap minggu.

Ironisnya, seperti diungkapkan Brad Simpson, AS menanggapi pembantaian massal itu dengan antusias. Malah mengintensifkan bantuan kepada tentara dan kelompok anti-komunis. Yang paling menyedihkan adalah komentar pejabat Deplu AS, Howard Federspiel: “Tak ada yang peduli jika mereka disembelih, asalkan mereka komunis.” [9]

Di sini saya mencoba menarik dua kesimpulan: pertama, AS telah mengeksploitasi G30S sebagai justifikasi untuk menyingkirkan PKI; kedua, AS terlibat dalam mendanai, mengoperasikan, dan mengintensifkan pembantaian massal terhadap orang-orang PKI.

Pasca G30S

Telegram Kedubes AS tanggal 2 November 1965 mengatakan, “negara-negara barat bersikeras bahwa militer bukan hanya harus menghancurkan PKI, melainkan juga menyingkirkan Soekarno dan pendukungnya.” [10]

Negara-negara barat khawatir, selama Soekarno masih berkuasa, AD akan sulit untuk melakukan perubahan drastis di Indonesia sesuai dengan harapan AS dan sekutunya. Untuk itu, pejabat AS mulai memikirkan untuk bagaimana membantu AD menyingkirkan Soekarno.

Salah satu aksi paling efektif yang dilancarkan AS dan sekutunya untuk menjatuhkan Soekarno, seperti dicatat Brad Simpson, adalah memperburuk situasi ekonomi Indonesia. Langkah yang menyerupai perang ekonomi ini punya makna: 1) membuat pemerintah Soekarno terjepit dengan mengarahkannya pada posisi kebangkrutan; 2) menciptakan ketidakpuasan populer dikalangan rakyat terhadap situasi ekonomi yang memburuk.

Perang ekonomi itu cukup efektif. Di awal 1966, ekonomi Indonesia di ujung keruntuhan. Ini dipakai oleh AD dan mahasiswa kanan untuk mendesakkan aksi-aksi menuntut penurunan harga dan mengeritik kegagalan ekonomi Soekarno.

Yang paling ironis, sekaligus benar-benar licik, adalah upaya mengalihkan sumber-sumber devisa Indonesia, yang seharusnya masuk ke Bank Sentral, justru masuk ke kantong Soeharto dan kelompoknya. Pada Februari 1966, Caltex tidak lagi membayar kepada Bank Sentral Indonesia, melainkan kepada rekening tak bernama di Belanda. Ironisnya, Menteri Perkebunan Frans Seda membuat aturan serupa terhadap perusahaan perkebunan AS yang lain, seperti Goodyear, US Rubber, dll. Ini membuat soekarno benar-benar terjepit.

Dengan situasi ekonomi yang memburuk, ditambah aksi-aksi mahasiswa kanan yang disokong oleh AD dan didanai AS/sekutunya, popularitas pemerintahan Soekarno merosot. Hingga akhirnya kekuasaannya dicolong oleh Soeharto pada bulan Maret 1966.

Segera setelah kendali kekuasaan sudah di tangan Soeharto/militer, AS dan sekutunya mulai merancang transisi di indonesia, termasuk mendesakkan paket-paket ekonomi untuk mengembalikan Indonesia sebagai ‘pejalan kapitalisme barat’. Pada tahun 1967, disahkanlah UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang sesuai dengan kehendak negara-negara kapitalis barat. Lembaga-lembaga imperialis seperti IMF, Bank Dunia, IGGI, dan LSM-LSM turun tangan untuk membantu Soeharto menata kekuasaannya dan model ekonominya agar benar-benar terbuka bagi kepentingan barat.

Dalam penyusunan UU PMA, misalnya, AS mengerahkan konsultan untuk membantu Widjoyo Nitisastro, seorang ekonom pro-barat, untuk menyusun UU tersebut. Setelah selesai, draftnya diserahkan ke Kedubes AS untuk dimintai komentar akan perlunya perbaikan-perbaikan dari pihak investor AS.

Lalu, untuk menguji kesetiaan rezim baru Soeharto terhadap investor asing, maka Freeport yang beroperasi di Papua sebagai ujian pertamanya. Setelah investor Freeport sukses, investor-investor asing pun mulai berebut jarahan di bumi Indonesia.

—————————

[1]. National Intelligence Estimate 55-63, The Malaysia-Indonesia Conflict, 30 Oktober 1963, NSF, NIE Box 55, Indonesia, Lyndon B Johnson Library.
[2] “The Succession Problem in Indonesia”, DOS/INR Research Memo RFE-16, March 19, 1964, NSF CO Files Indonesia Vol.1 LBJL; Memo dari Templeton untuk Peck 19 Desember 1964, FO General Correspondence Files FO 371/15251, DH 1015/112, UKNA.
[3] Telegram 1642, dari Kedutaan Besar AS di Jakarta ke Kementerian Luar Negeri AS, 22 Februari 1965, NSF CO File Indonesia, Box 246, Vol III, LBJL; Memo dari James C Thomson ke McGeorge Bundy, 1 Maret 1965, James C Thomson Paper, Box 12, John F Kennedy Library.
[4] Telegram 1718, dari Kedubes AS di Jakarta ke Kementerian Luar Negeri AS, 3 Maret 1965, PET INDON-US, NA.
[5] Memo yang dipersiapkan untuk Komite 303, 23 Februari 1965, FRUS, 1964-1968, hlm. 234.
[6] Kabel informasi CIA, OCI 13114, 17 Oktober 1965, NSF CO File, Indonesia, Vol. V, LBJL.
[7] Telegram 264 dari Penasehat Politik ke CinCFE Singapura, 5 Oktober 1965, FO 371-180313, UKNA.
[8] Telegram 868, dari Kedubes AS di Jakarta ke Kemenlu AS, 5 Oktober 1965, POL 23-9 INDON, NA; Drew Cottle and Narim Najjarine, “The Department of External Affairs, the ABC and Reporting of Indonesia Crisis, 1965-1969, Australian Journal of Politics and History 49:1 (2003) hlm.48-60.
[9] Federspiel sebagaimana dikutip dalam Kathy Kadane, “Ex Agent say CIA compiled death list for indonesia”, States News Service, 19 May 1990.
[10] Telegram 1304, dari Kedubes AS di Jakarta ke Kemenlu AS, 2 November 1965, NSF CO Files Indonesia, Vol. V, LBJL.
Oleh Rudi Hartono, pengurus Komite Pimpinan Pusat – Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

(sumber: berdikarionline.com)

(Sumber ke 2: http://sejarahri.com/amerika-di-balik-g30s-1965/)

RAHASIA SEJARAH SESUNGGUHNYA G 30 S PKI DI INDONESIA


                Gerakan pmberontakan g 30 s pki sejarah yang di ketahui masyrakat selama ini adalah bukan sejarah yang sesungguhnya terjadi, karena di situ ada kebohongan-kebohongan yang memutar balikan fakta sejarah kebenaran sesungguhnya tidak diungkap.

                Awal mula sejarah presiden sukarno kiblat politiknya adalah ke rusia yang dimana disitu ada negara besar yang bernama unisoviet dan negaranya berpaham komunis dan lawan negara unisoviet musuh abadinya yaitu amerika serikat yang berpaham liberalisme, presiden sukarno pernah membuat NASAKOM ( Nasionalis Agama dan Komunis ) dan sangat anti amerika dan juga tidak menyukai negara paman sam itu alasanya salah satunya negara indonesia dan sukarno tidak mau di setir atau di budaki oleh negara amerika serikat.

               situasi politik pada waktu itu di indonesia sukarno sangat disegani dan di hormati di indonesia khususnya dan umum nya di dunia dengan ketegasannya dalam memimpin negara indonesaia, negara amerika mencari cara untuk menggulingkan pemerintahan indonesia yang dipimpin oleh sukarno lewat peran CIA disusunlah sebuah rencana, kebetulan pada waktu itu presiden sukarno sudah sakit-sakitan, lewat suharto amerika mulai melancarkan penggulungan presiden sukarno pada waktu itu partai politik yang sangat dekat dengan presiden sukarno adalah PKI ( Partai Kmunis Indonesia ).

              PKI pada waktu itu sangat menguasai parlemen pemerintahan bahkan ketua MPR sendiri Aidit seorang tokoh PKI dan menteri-mentri dan gubernur hampir rata-rata dari PKI jadi tidak mungkin kalau PKI yang akan menggulingkan pemerintahan sukarno dan membunuh ke 7 para jendral alasan yang logis saja PKI tanpa harus memberontak dia sudah menguasai pemerintahan dan parlemen hampir seluruhnya jadi disini jelas pada waktu itu suharto membuat rencana justru memfitnah PKI yang memberontak dengan alasan adanya dewan jendral yang kejadiannya PKI yang menculik dan membunuh para jendral padahal yang melakukan itu semua bukan PKI tapi suharto di bantu oleh CIA yang didalangi oleh negara amerika serikat yang ingin menggulingkan kepemimpinan presiden sukarno yang kiblat polotiknya ke rusia yang selama ini lawan abadinya negara amerika serikat.

                Kesaksian mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama HARYA SUDIRJA bahwa Bung Karno menginginkan Menpangad Letjen Achmad Yani menjadi Presiden kedua bila kesehatan Proklamator itu menurun, ternyata sudah lebih dahulu diketahui isteri dan putra-putri pahlawan revolusi tersebut. "Bapak sendiri sudah cerita kepada kami (isteri dan putra-putri Yani) bahwa dia bakal menjadi Presiden.Waktu itu Bapak berpesan, jangan dulu bilang sama orang lain", ujar putra-putri Achmad Yani : Rully Yani, Elina Yani,Yuni Yani dan Edi Yani - Sebelumnya diberitakan dalam acara diskusi "Jakarta - Forum Live, Peristiwa G-30S/PKI, Upaya Mencari Kebenaran" terungkap kesaksian baru, yaitu beberapa hari sebelum peristiwa kelam dalam sejarah republik ini meletus, Bung Karno pernah meminta Menpangad Letjen Achmad Yani menggantikan dirinya menjadi presiden bila kesehatan proklamator itu menurun.

               Kesaksian tersebut disampaikan salah satu peserta diskusi: Harya Sudirja. Menurut mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama ini, hal itu disampaikan oleh Letjen Achmad Yani secara pribadi pada dirinya dalam perjalanan menuju Istana Bogor tanggal 11 September 1965. Putra-putri Achmad Yani kemudian menjelaskan, kabar baik itu sudah diketahui pihak keluarga 2 (dua) bulan sebelum meletusnya peristiwa berdarah G-30S/PKI. "Waktu itu ketika pulang dari rapat dengan Bung Karno beserta para petinggi negara, Bapak cerita sama ibu bahwa kelak bakal jadi presiden", kenang Yuni Yani, putri keenam Achmad Yani. "Setelah cerita sama ibu, esok harinya sepulang main golf, Bapak juga menceritakan itu kepada kami putra-putrinya. Sambil tertawa, kami bertanya, "Benar nih Pak?" Jawab Bapak ketika itu, "Ya", ucapnya. Menurut Yuni, berita baik itu juga mereka dengar dari ajudan Bapak yang mengatakan Bapak bakal jadi presiden. Makanya ajudan menyarankan supaya siap-siap pindah ke Istana.

             Sedangkan menurut Elina Yani (putri keempat), saat kakaknya Amelia Yani menyusun buku tentang Bapak, mereka menemui Letjen Sarwo Edhie Wibowo sebagai salah satu nara sumber. "Waktu itu, Pak Sarwo cerita bahwa Bapak dulu diminta Bung Karno menjadi presiden bila kesehatan Proklamator itu tidak juga membaik. Permintaan itu disampaikan Bung Karno dalam rapat petinggi negara. Di situ antara lain, ada Soebandrio, Chaerul Saleh dan AH Nasution", katanya. "Bung Karno bilang, Yani kalau kesehatan saya belum membaik kamu yang jadi Presiden", kata Sarwo Edhie seperti ditirukan Elina.

              Presiden sukarno sakitnya semakin parah dan keparahan sakitnya ini justru direncanakan oleh CIA lewat suharto dengan membiarkan semakin parah dan tidak memberikan pengobatan yang tepat pada presiden sukarno yang tujuanya agar presiden sukarno tidak sembuh dan diharapkan meninggal dunia,  disini juga di hembuskan fitnah oleh CIA lewat suharto bahwa yang membuat sukarno sakit dan yang melakukan pembiaran adalah PKI.

             Dengan semakin parahnya presiden sukarno dengan sakitnya terdengar kabar akan memberikan jabatannya sebagai presiden kepada jendral ahmad yani dan itu dibenarkan Yuni pihak keluarga senang mendengar berita Bapak bakal jadi Presiden. Namun ibunya (Alm.Nyonya Yayuk Ruliah A.Yani) usai makan malam membuat ramalan bahwa kalau Bapak tidak jadi presiden, bisa dibunuh. "Ternyata ramalan ibu benar. Belum sempat menjadi presiden menggantikan Bung Karno,Bapak dibunuh secara kejam dengan disaksikan adik-adik kami. Untung dan Eddy. "Kalau Bapakmu tidak jadi presiden, ya nangendi (bahasa Jawa artinya :kemana) bisa dibunuh", kata Nyonya Yani seperti ditirukan Yuni. Lalu siapa pembunuhnya ? Menurut Yuni, Ibu dulu mencurigai dalang pembunuhan ayahnya adalah petinggi militer yang membenci Achmad Yani. Dan yang dicurigai adalah Soeharto. Mengapa Soeharto membenci A.Yani ? Yuni mengatakan,sewaktu Soeharto menjual pentil dan ban yang menangkap adalah Bapaknya. "Bapak memang tidak suka militer berdagang.Tindakan Bapak ini tentunya menyinggung perasaan Soeharto". "Selain itu, usia Bapak juga lebih muda, sedangkan jabatannya lebih tinggi dari Soeharto", katanya.

                Sedangkan Rully Yani (putri sulung) yakin pembunuh Bapaknya adalah prajurit yang disuruh oleh atasannya."Siapa orangnya, ini yang perlu dicari", katanya.Mungkin juga, lanjutnya, orang-orang yang tidak suka terhadap sikap Bapak yang menentang upaya mempersenjatai buruh, nelayan dan petani. "Bapak dulu kan tidak suka rakyat dipersenjatai. Yang bisa dipersenjatai adalah militer saja", katanya. Menurut dia, penjelasan mantan tahanan politik G-30S/PKI Abdul Latief bahwa Soeharto dalang G-30S/PKI sudah bisa menjadi dasar untuk melakukan penelitian oleh pihak yang berwajib. "Ini penting demi lurusnya sejarah. Dan kamipun merasa puas kalau sudah tahu dalang pembunuhan ayah kami", katanya. Dia berharap, kepada semua pelaku sejarah yang masih hidup bersaksilah supaya masalah itu bisa selesai dengan cepat dan tidak menjadi tanda tanya besar bagi generasi muda bangsa ini. Kesaksian istri dan putra-putri A.Yani bahwa Bapaknyalah yang ditunjuk Bung Karno untuk jadi Presiden kedua menggantikan dirinya, dibenarkan oleh mantan Asisten Bidang Operasi KOTI (Komando Operasi Tertinggi), Marsekal Madya (Purn) Sri Mulyono Herlambang dan ajudan A.Yani, Kolonel (Purn) Subardi. Apa yang diucapkan putra-putri Jenderal A.Yani itu benar. Dikalangan petinggi militer informasi tersebut sudah santer dibicarakan. Apalagi hubungan Bung Karno dan A.Yani sangat dekat, ujar Herlambang. Baik Herlambang maupun Subardi menyebutkan, walaupun tidak terdengar langsung pernyataan Bung Karno bahwa dia memilih A.Yani sebagai Presiden kedua jika ia sakit, namun keduanya percaya akan berita itu. "Hubungan Bung Karno dengan A.Yani akrab dan Yani memang terkenal cerdas, hingga wajar jika kemudian ditunjuk presiden",kata Herlambang. "Hubungan saya dengan A.Yani sangat dekat, hingga saya tahu betapa dekatnya hubungan Bung Karno dengan A.Yani", ujar Herlambang yang saat ini sedang menyusun buku putih peristiwa G-30S/PKI. Menyinggung tentang kecurigaan Yayuk Ruliah A.Yani (istri A.Yani), bahwa dalang pembunuh suaminya adalah Soeharto, Herlambang mengatakan bisa jadi seperti itu. Pasalnya 2 (dua) bulan sebelum peristiwa berdarah PKI, Bung Karno sudah menunjuk A.Yani sebagai penggantinya. Tentu saja hal ini membuat iri orang yang berambisi jadi presiden.Waktu itu peran CIA memang dicurigai ada, apalagi amerika serikat tidak menyukai Bung Karno karena terlalu vokal.

                Sedangkan Yani merupakan orang dekat Bung Karno. Ditambahkan Herlambang, hubungan A.Yani dengan Soeharto saat itu kurang harmonis. Soeharto memang benci pada A.Yani. Ini gara-gara Yani menangkap Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban. Selain itu Soeharto juga merasa iri karena usia Yani lebih muda, sementara jabatannya lebih tinggi. Terlebih saat A.Yani menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Bung Karno meningkatkan status KASAD menjadi Panglima Angkatan Darat. "Dan waktu itu A.Yani bisa melakukan apa saja atas petunjuk Panglima Tertinggi Soekarno, tentu saja hal ini membuat Soeharto iri pada A.Yani.

               Dijelaskan juga, sebenarnya mantan presiden Orde Baru itu tidak hanya membenci A.Yani,tapi semua Jenderal Pahlawan Revolusi. D.I.Panjaitan dibenci Soeharto gara-gara persoalan pengadaan barang dan juga berkaitan dengan penjualan pentil dan ban. Sedangkan kebenciannya terhadap MT. Haryono berkaitan dengan hasil sekolah di SESKOAD. Disitu Soeharto ingin dijagokan tapi MT.Haryono tidak setuju. Terhadap Sutoyo, gara-gara ia sebagai Oditur dipersiapkan untuk mengadili Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban itu. Menurut Subardi, ketahuan sekali dari raut wajah Soeharto kalau dia tidak menyukai A.Yani. Secara tidak langsung istri A.Yani mencurigai Soeharto.

               Dan ternyata surat supersemar ( surat perintah sebelas maret ) yang selama ini diakui oleh suharto sebagai surat perintah dari presiden sukarno untuk mengangkat dirinya ( suharto ) menggantikan sukarno menjadi presiden, padahal isinya surat itu bukan seperti itu tapi perintah untuk mengamankan situasi keamanan yang pada waktu itu sedang memanas.

              Surat SUPERSEMAR yang asli yang selama ini di bicarakan itu tidak pernah diperlihatkan oleh suharto kepada umum yang di perlihatkan surat supersemar yang palsu yang dibuat oleh dia sendiri, yang mengangkat suharto menjadi presiden selama 32 tahun.

              Strategi memputar balikan fakta sejarah ini berhasil dilakukn oleh CIA lewat suharto yang di dukung oleh negara amerika serikat, hasilnya PKI berhasil difitnah sebagai pembunuh para jendral juga sebagai yang membuat kekacauan yang ingin menggulingkan pemerintahan sukarno dan ingin mengganti PANCASILA sebagai pedoman negara indonesia bahkan sukarno dianggap juga sebagai antek-antek dan pendukung PKI padahal semua itu salah yang sejujurnya adalah kesimpulannya yang menggulingkan pemerintahan  sukarno dan yang membunuh para jendral serta yang membuat kekacauan kudeta adakah ulah CIA oleh negara amerika serikat lewat tangan suharto yang selama ini pernah menjadi presiden indonesia selama 32 tahun lamanya.

              Itulah fakta sesungguhnya sejarah yang selama ini pernah menggurat negara kesatuan republik infonesia, semoga kita semua bisa menghilangkan buruk sangka dan kebencian yang selama ini kita rasakan, hilangkan pikiran buruk tentang PKI sebenarnya tidak pernah melakukan semua itu janganlah memandang sebelah mata kepada mantan PKI karena itu tidak adil menuduh yang tidak pernah mereka lakukan.